Indonesia adalah negara yang penuh dengan ragam budaya dan adat istiadat. Bermacam-macam mitos pun kerap kali dapat dikategorikan sebagai budaya dan istiadat. Mitos-mitos yang beredar pun tidak menjauhi Pulau Bali yang salah satunya terdapat di Gunung Agung, gunung tertinggi di Bali. Ingin tahu apa saja fakta dan mitos di sekitar Gunung Agung, Bali?
FAKTA

Jika Anda berkunjung ke Pura Besakih, Gunung Agung akan terlihat seperti gunung yang runcing. Tetapi jika Anda mendaki gunung ini, bentuknya adalah memanjang dan berakhir pada kawah yang melingkar dan lebar.

Gunung Agung adalah gunung kelima tertinggi di Indonesia yang merupakan sebuah gunung berapi aktif.

Gunung Agung sempat meletus di tahun 1963 yang juga merupakan salah satu letusan terbesar di abad ke-20.

Saat Gunung Agung meletus di tahun 1963, Pura Besakih hanya mengalami kerusakan kecil bahkan saat letusan pertama, Pura Besakih seakan tak tersentuh.

Upacara Eka Dasa Rudra digelar semasa letusan berlangsung. Sepuluh ribu orang menghadiri upacara tersebut.
MITOS

Gunung Agung dipercaya menjadi tempat bersemayamnya Batara Mahadewa atau Hyang Tolangkir, dewa di kepercayaan Hindu.

Selain itu, Gunung Agung juga diyakini sebagai replika Gunung Meru/Semeru yang dibelah oleh Dewa Pasupati.

Karena memiliki nilai spiritual yang tinggi, Gunung Agung dipercaya menjadi tulang punggung Pulau Bali dan rumah utama Pura Besakih.

Terdapat sumber mata air selama pendakian dari Pura Besakih ke Gunung Agung yang dianggap suci oleh masyarakat setempat. Tidak boleh sembarangan orang yang mengambilnya. Jika ada yang mau mengambil harus bersembahyang terlebih dahulu.
![]()
Masyarakat Bali memiliki keyakinan bahwa Gunung Agung adalah gunung keramat yang harus dijaga. Oleh sebab itu para pendaki yang ingin pergi ke puncak harus ditemani oleh pemandu. Karena jika sesuatu hal buruk yang menyebabkan kematian terjadi di Gunung Agung, masyarakat harus mengadakan Upacara Penyucian Gunung.


















